2014082627

Israel Masih Larang Bahan Bangunan Masuk Jalur Gaza

Kota Gaza – Israel tetap melarang masuknya bahan bangunan memasuki Jalur Gaza kendati ada kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok gerilyawan Palestina pimpinan HAMAS pada 26 Agustus, kata seorang pejabat senior, Minggu.

Nazmi Muhana, Direktur Lembaga Penyeberang di Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA), memberitahu Xinhua bahwa saat ini pihak Palestina “belum diberitahu atau menerima keterangan mengenai perubahan apapun yang berkaitan dengan pengoperasian kedua pos utama penyeberangan di perbatasan antara Israel dan Jalur Gaza”.

“Sekarang ini, apa yang diperkenankan setiap hari hanyalah 250 sampai 300 truk yang bermuatan makanan, sayuran, pakaian, dan bahan bakar,” kata Muhana. 

Ia menambahkan, “Jumlah truk itu belum bertambah sejak berakhirnya perang.”

Pada 8 Juli, Israel mulai melancarkan agresi militer melalui udara, laut dan darat ke Jalur Gaza, yang berlangsung selama 51 hari sampai Mesir berhasil memperantarai gencatan senjata antara Israel dan faksi gerilyawan Palestina. 

Selama operasi militer Israel ke Jalur Gaza, 2.145 orang Palestina–kebanyakan warga sipil–tewas dan 11.100 orang lagi cedera.

Selama agresi militer Israel terhadap daerah kantung pantai itu, kerusakan parah terjadi pada rumah, bangunan, gedung pemerintah, masjid dan prasarana. 

Sebagian kesepakatan gencatan senjata yang dicapai di Mesir, Kairo, ialah memperkenankan semua barang, termasuk bahan bangunan dan dimulainya pembangunan di Jalur Gaza.

“PNA meningkatkan kontaknya selama beberapa hari belakangan guna mengizinkan bahan bangunan dan industri bisa memasuki Jalur Gaza agar proses pembangunan dapat segera dimulai setelah perang berakhir,” kata Muhana.

Pada 2007, Israel menjatuhkan blokade ketat atas daerah kantung Palestina tersebut, segera setelah HAMAS merebut kendali dengan mengusir pasukan keamanan yang setia kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas. 

Namun, pada 2010, Israel meredakan blokade itu dan mengizinkan prajurit pasukan komando Israel menyerang armada kapal bantuan tujuan Jalur Gaza; sembilan pegiat Turki gugur dalam aksi militer Israel tersebut.

Selain meredakan blokade Israel, kesepakatan gencatan senjata yang diperantrai Mesir itu juga memperluas daerah penangkapan ikan bagi nelayan Jalur Gaza dari tiga mil jadi enam mil.

Israel dan Palestina juga sepakat melalui Mesir untuk mengadakan perundingan setelah satu bulan gencatan senjata mengenai masalah lain seperti pembangunan pelabuhan laut dan bandar udara bagi Jalur Gaza dan pembebasan tahanan. (mk/knrp)

Sumber: antaranews.com

Rechte Partei verlässt Regierungskoalition in Israel

​Menlu Israel: Gencatan Senjata Pilihan Buruk

Tel Aviv - Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman mendesak agar Israel menggulingkan Hamas dari jalur Gaza, serta membuka jalan untuk pemimpin yang bermoderat untuk memerintah di daerah Palestina tersebut. Dia mengkritik kesepakatan gencatan senjata antara Israel dengan Hamas yang dilakukan beberpa pekan lalu.

“Gencatan senjata pilihan yang sangat buruk bagi Negara Israel,” kata Lieberman seperti yang dilansir Jpost.com, Minggu (31/8/2014).

Liberman bahkan menyamakan Hamas dengan kelompok-kelompok teroris islam seperti negara Islam dan Al-Qaeda, yang dinilai dapat mengancam wilayah Israel. Menurutnya, ancaman tersebut terlihat dalam pidato yang disampaikan pimpinan Hamas Ismail Haniyeh setelah kesepakatan gencatan senjata. “mereka (Hamas) dalam posisi akan menghapus negara Israel,” ujar dia.

Pernyataan ini berbeda dengan sebelumnya yang menyatakan dirinya tidak ingin Israel untuk mengambil alih Jalur Gaza. Sebaliknya mendesak pemerintah Israel mencari solusi yang berkelanjutan untuk menghentikan konflik di jalur Gaza. (mk/knrp)

Sumber: metrotvnews.com

kuburan-massal-ilustrasi-_140727173721-758

Terungkap, Kuburan Massal Warga Palestina Korban Kekejian Israel

TEL AVIV — Sejak lama diyakini ratusan rakyat Palestina tewas selama Perang Arab-Israel tahun 1948. Keyakinan itu semakin menguat setelah ditemukan enam kuburan massal di distrik Jaffa Tel Aviv, Rabu pekan lalu.


Seorang pejabat pemakaman, mengatakan kepada AFP, Ahad (31/8), kuburan-kuburan itu ditemukan saat pekerja bangunan menggali tanah di area tersebut. Tulang belulang tersebut, dikutip dari World Bulletin, diyakini merupakan korban pembantaian kelompok militan sayap kanan Yahudi.


Surat kabar As Safri melaporkan sekitar 200 korban terkubur di satu lokasi. Hanya saja tak disebutkan jumlah di kuburan lainnya.


Peneliti dan sejarawan Mahmoud Obeid, mengatakan para korban terdiri dari berbagai usia, termasuk perempuan, anak-anak dan orangtua. ”Korban juga tampaknya mengalami tanda-tanda kekerasan,” tutur dia dikutip dari World Bulletin, Ahad (31/8). (mk/knrp)

Sumber: Republika


Sekitar 760 ribu warga Palestina terusir dari rumah mereka ketika perang berkecamuk. Sebagian dari mereka mengungsi ke Yordania.

Images_news_2014_Juli_9_9faza_300_0

Israel Sita Hampir 1.000 Ha Tanah Palestina di Tepi Barat

TEPI BARAT — Israel pada Ahad (31/8) menyita hampir 1.000 hektare (ha) tanah Palestina milik pribadi di dekat sebuah pemukiman Israel Selatan Betlehem di Tepi Barat.

Kelompok HAM Israel Peace Now mengatakan ini belum pernah terjadi sebelumnya sejak 1980-an.

Pemukiman itu dibangun di atas tanah Palestina yang diduduki Israel, termasuk Yerussalem Timur, yang dianggap ilegal oleh PBB.

Penolakan Israel untuk menghentikan pembangunan dan perluasan mereka selama proses perdamaian menimbulkan ketidakpercayaan rakyat Palestina.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situsnya, Peace Now mengutuk perampasan tanah yang baru itu.

Pihaknya juga mendukung langkah terakhir dalam mencapai perdamaian antara Israel dan Palestina berupa Solusi Dua Negara (Two State Solution).

“Peace Now memandang pernyataan ini sebagai bukti bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak bercita-cita membangun hubungan diplomatik baru, melainkan ia terus menghambat visi negara dan tidak mendukung Two State Solution,” tulisnya, dilansir dari Al-Jazeera, Senin (1/9).

Rakyat Palestina yang memiliki tanah di Desa Surif, Husan, Al-Jabaa, dan Kota Betlehem diberikan waktu 45 hari untuk mengajukan keberatan resmi mereka atas penyitaan tanah secara sepihak oleh Israel di Pengadilan Israel.

Situs berita resmi Palestina melaporkan, jika pemilik tanah tidak melawan penyitaan sepihak tersebut, maka tanah itu akan tetap disita dan dinyatakan menjadi milik Israel.

Dimasa lalu, rakyat Palestina mengeluh karena keberatan mereka di pengadilan diabaikan atau ditolak pemerintah Israel. Mereka tetap saja merebut hak kepemilikan tanah itu secara paksa. (mk/knrp)

Sumber: Republika

IMG_20140830_152452

KNRP Berikan Bantuan Jangka Panjang untuk Rakyat Gaza Palestina

Istanbul, Turki (30/8) – Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) mengikuti konferensi ‘International Public Foundation to Aid Gaza’ yang berlangsung hari ini Sabtu (30/8) sampai Ahad (31/8) di Istanbul, Turki.

Keikutsertaan KNRP dalam konferensi ini, sesuai dengan keinginan rakyat Indonesia yang berkeinginan terus membantu rakyat Palestina khususnya di Jalur Gaza, seperti diketahui bersama, Jalur Gaza mengalami agresi serta genosida Zionis Israel selama 51 hari. 

Bantuan rakyat Indonesia yang akan disalurkan melalui KNRP dalam konferensi ini nantinya berupa program-program, diantaranya pengadaan air bersih, pertanian, kesehatan dan pendidikan.

Demikian disampaikan Ketua Harian KNRP Caca Cahayaningrat di sela-sela pembukaan konferensi internasional perdana yang diselenggarakan Qatar Charity, di Istanbul Turki Sabtu (30/8) pagi waktu setempat.

Kemudian, Caca melanjutkan, dalam konferensi ini juga akan membahas kondisi Gaza terkini serta dan bantuan apa saja yang diperlukan warga Gaza dalam berbagai sisi kehidupan, “Kondisi Gaza terkini akan disampaikan sejumlah tokoh-tokoh di Jalur Gaza Palestina, salah satunya DR. Ishom Yusuf, yang pernah menerima KNRP saat ke Jalur Gaza tahun 2012-2013 lalu, juga KNRP akan menyalurkan donasi dari rakyat Indonesia sebesar 1.000.000 USD untuk program-program yang akan dibahas dalam konferensi kali ini,” jelas Caca. 

Sementara itu, Ketua Panitia Konferensi Wail Saqa menyampaikan, mendirikan dan mendeklarasikan International Public Foundation to Aid Gaza menjadi target dari konferensi, “Tujuan utama untuk membahas kondisi Gaza dan memetakan kebutuhan warga Gaza yang telah menjadi korban agresi Zionis Israel serta merumuskan apa yang bisa dilakukan LSM dari berbagai negara untuk dapat memberikan yang terbaik bagi rakyat Gaza sesegera mungkin dalam waktu yang panjang,” ungkapnya. 

Penyaluran bantuan kali ini adalah salah satu cara KNRP menyalurkan kepada lembaga yang tepat dan terpercaya, sebelumnya saat terjadi agresi Zionis Israel di Jalur Gaza, KNRP juga telah menyalurkan 4,5 Milyar rupiah melalui Aliansi Internasional untuk Penyelamatan Al Quds dan Palestina di Istanbul Turki, Ahad (20/7) bulan lalu.(mk/knrp)

Netanyahu: Pilih Hamas Atau Berdamai Dengan Israel?

Perdana menteri Israel, Benyamin Netanyahu meminta Presiden Otoritas Palestina, Mahmud Abbas berlepas diri dari koalisi dengan Hamas, kemudian memulai dengan proses politik untuk mencapai kesepakatn damai.

Netanyahu juga memberikan pilihan kepada Abu Mazen (Mahmud Abbas) apakah mau pilih damai atau pilih Hamas. Kalau Abu Mazen bersedia pisah dari koalisi Hamas maka ia telah siap untuk menuju kesepakatan damai.

Dalam wawancaranya dengan televisi stasiun 10 kemarin, Netanyahu menambahkan, seharusnya Abu Mazen pilih jalan damai. Saya yakin ia benar bila milih meninggalkan Hamas yang tidak menyeru kecuali untuk menghancurkan kami, bahkan mereka melakukan niatnya tersebut, ungkap Netanyahu.

Terkait dengan pertanyaan, apakah 50 hari operasi militer cukup untuk meneguhkan Abu Mazen sebagai partner nyata dalam perdamaian di kawasan ?. Netanyahu menjawab, saya sangat berharap kerja sama Abu Mazen di bidang politik juga.

Ia menambahkan, jika saya diberikan pilihan antara Hamas masuk Tepi Barat atau Abu Mazen dan OP masuk Gaza, maka saya pilih yang kedua. Karena wajib pilih salah satu berdamai dengan Israel atau berdamai dengan Hamas, katanya. (Mk/knrp)

Sumber: infopalestina.com

Festival Film Ini “Ogah” Terima Dana Israel

Festival film Bristol menolak menerima dana dari Kedutaan Israel untuk mendanai biaya perjalanan pembuat film Israel karena situasi Gaza.

Juru bicara festival film mengatakan, keputusan tersebut untuk menjaga status netral dalam politik. Yoav Homung dan Niv Shpigel dijadwalkan akan menghadiri acara screening untuk film mereka, Deserted dan Load pada bulan depan.

Keputusan tersebut dikritik oleh anggota komunitas Yahudi di kota tersebut. ”Keputusan itu diambil untuk menolak tawaran dukungan finansial dari Kedutaan Israel untuk mendanai biaya perjalanan pembuat film Israel ke festival tersebut,” seperti dikutip dari BBC Jumat (29/8).

Sumber: Republika Online

bos-hamas-perang-50-hari-di-gaza-baru-pemanasan-fFx

Khaled Meshaal: Perang 50 Hari di Gaza Baru Pemanasan

GAZA – Pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, menyatakan perang 50 hari dengan Israel di Gaza, baru permulaan atau pemanasan.

Menurutnya, perang itu menjadi tonggak untuk mencapai tujuan rakyat Gaza, yakni terbebasa dari blokade Israel.

Pernyataan itu disampaikan Meshaal saat konferensi pers di Doha, di mana dia tinggal di pengasingan. Dia menegaskan, bahwa Hamas tidak akan pernah menyerahkan senjata sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Israel.

Dalam jumpa per situ, Meshaal juga menegaskan, bahwa komandan sayap militer Hamas, Mohammed Deif yag diserang rudal Israel, masih hidup dan kondisinya baik. “Dia baik-baik saja,” katanya.

”Anda tidak dapat menghentikan perlawanan, karena perlawanan ada dalam pikiran kita dan dalam jiwa kita. Perlawanan kita akan terus sampai semua tuntutan kami terpenuhi dan kita semakin dekat dengan kemenangan dan al-Quds (Yerusalem akan terbebas),” lanjut Meshaal.

”Ini (perang 50 hari) bukan akhir segaanya. Ini hanya tonggak untuk mencapai tujuan kami. Kita tahu bahwa Israel kuat dan dibantu oleh masyarakat internasional. Kami tidak akan membatasi impian kami atau membuat kompromi terhadap tuntutan kami,” imbuh Meshaal, seperti dikutip Al Arabiya, Jumat (29/8/2014). (mk/knrp)

Sumber: sindonews.com

israel tentara

Terluka Akibat Serangan Roket dari Gaza, Tentara Israel Meninggal

Tel Aviv, - Seorang tentara Israel yang terluka akibat serangan roket pekan lalu, telah meninggal akibat luka-lukanya hari ini. Tentara tersebut berumur 21 tahun.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Jumat (29/8/2014), Netanel Maman terkena serangan roket di kota Ashdod, Israel selatan pada 22 Agustus lalu. Roket tersebut ditembakkan dari Gaza selama konflik antara Hamas dan Israel yang berlangsung 50 hari.

Dengan kematian pria muda tersebut, berarti jumlah tentara Israel yang tewas selama konflik Gaza itu bertambah menjadi 65 tentara. Konflik yang berlangsung tujuh pekan tersebut, juga menewaskan enam warga sipil Israel, termasuk seorang bocah laki-laki berumur 4 tahun dan seorang pekerja asal Thailand.

Sementara lebih dari 2.100 warga Palestina tewas akibat gempuran-gempuran udara Israel atas wilayah Jalur Gaza. Menurut PBB, nyaris 70 persen dari mereka yang tewas tersebut adalah warga sipil.

Perang di Gaza ini telah berlangsung sejak 8 Juli lalu dan berakhir dengan gencatan senjata jangka panjang antara Israel dan Palestina. Gencatan senjata itu mulai berlaku sejak Selasa, 26 Agustus lalu. (mk/knrp)

Sumber: detiknews.com

2014082627

50.000 orang masih berada di tempat perlindungan di Gaza

PBB, New York – Sebanyak 233.000 orang yang kehilangan rumah telah meninggalkan tempat penampungan Badan Pekerjaan dan Bantuan PBB (UNRWA) di Jalur Gaza hingga Rabu sore (28/8), sementara 54.000 orang lagi masih beradai 78 tempat penampungan.

Stephane Dujarric, Juru Bicara PBB, mengeluarkan pernyataan tersebut dalam satu taklimat harian di Markas PBB, New York, dengan mengutip satu laporan dari Kantor PBB bagi Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

“Namun, jumlah orang mengungsi masih satu rentan, sebab banyak orang meninggalkan tempat penampungan untuk sementara dan kembali ke tempat mereka bekerja serta memeriksa rumah mereka untuk mengumpulkan barang pribadi mereka,” kata Dujarric.

Laporan OCHA itu dikeluarkan setelah para perunding Israel dan Palestina pada Selasa (26/8) menyepakati gencatan senjata yang diperantarai Mesir guna mengakhiri konflik 50-hari. Hari pertama gencatan senjata penuh Israel-HAMAS berlalu secara damai pada Rabu (27/8).

Selama konflik tersebut, rakyat Palestina berusaha mengungsi di berbagai sekolah PBB di Jalur Gaza. Di daerah kantung itu, kehidupan belum kembali normal pada Rabu, tapi ribuan warga telah kembali ke rumah mereka, kata beberapa laporan.

Lebih dari 2.000 orang Palestina tewas dan 10.000 orang lagi cedera sejak Selasa (8 Juli), ketika Israel melancarkan “Operation Protective Edge”, dalam upaya “mencegah penembakan roket lintas-perbatasan” dari Jalur Gaza, yang dikuasai HAMAS. 

Di pihak Israel, 64 tentara dan lima warga sipil tewas. (mk/knrp)

Sumber: antara news