DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI

 

Jakarta – Jalur Gaza merupakan sebuah wilayah di pantai timur Laut Tengah berbatasan dengan Mesir di sebelah Barat Daya, dan israel di sebelah timur dan utara. Jalur Gaza memiliki panjang sekitar 41 Km, dan lebar antara 6 – 12 Km, dengan luas total 365 Km persegi. Demikian Ustadz Hendra Wijaya Lc, membuka materi Tatsqif Maqdisiyah yang diadakan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) pada Selasa (18/12/2018) di Kantor KNRP, Jalan Jabir 11 B, Jakarta.

Dipandu oleh Sekretaris Bidang Program KNRP Gigih Ginanjar, Ustadz Hendra menyampaikan bahwa Tepi Barat dan Gaza merupakan wilayah negara Palestina yang dideklarasikan pada 1988. Kedua wilayah tersebut dipisahkan oleh israel, bahkan sejak 1967 sebagian wilayah di Tepi Barat tergerus akibat pendudukan israel.

“Biasanya orang-orang Gaza tidak mau menyebut israel sebagai negara, melainkan tanah milik orang Palestina yang dijajah,” jelas Ustadz Hendra yang pernah tinggal di Gaza.

Ustadz Hendra menyampaikan realita Gaza yang tidak termuat pada media masa. Dirinya menggambarkan bagaimana luas Gaza yang mana bila naik kendaraan dari utara Gaza sampai Rafah di Selatan Gaza, jika perjalanan lancar dapat ditempuh selama sekitar satu jam. Dan orang-orang di Gaza antara satu sama lain saling kenal, saking kecilnya luas Gaza.

Bagaimana dengan Cuaca di Gaza? Ustadz Hendra yang pernah kuliah di Mesir mengambarkan kondisi cuaca di Gaza tidak jauh beda dengan kondisi cuaca di Mesir. Bedanya kalau cuaca musim dingin di Mesir angin dingin dengan membawa debu, hal itu menimbulkan penyakit. Sementara di Gaza angin musim dingin dari pantai dan debunya tidak begitu banyak.

“Di Gaza bila masuk musim dingin tidak turun salju, hanya hujan es saja. Kalau musim dingin kadang banjir, karena bisa dua sampai tiga di Gaza hujan terus,” tambahnya.

Secara administrasi Gaza terbagi menjadi 3 wilayah, yaitu Gaza Utara, Gaza Tengah dan Gaza Selatan. Gaza Pusat atau Gaza City masuknya ke wilayah Utara. Dalam adat di Gaza pun biasanya terbagi tiga wilayah. Orang Gaza tidak mau menikahkan anaknya jauh-jauh. Seperti adat orang Gaza Utara tidak mau menikahkan anaknya kecuali dengan warga Gaza Utara.

Di wilayah Gaza Utara banyak warga asli dan pengungsi yang berasal dari wilayah Utara Palestina terjajah. Bila melihat warga Gaza bekulit putih, bermata biru, dan rambutnya agak pirang berarti warga Gaza Utara atau pengungsi dari wilayah Palestina terjajah. Bila sudah masuk ke wilayah Gaza Tengah sudah mulai campuran.

Gaza Selatan orangnya seperti kita, Indonesia. Warga Khan Yunis sampai Rafah atau Gaza Selatan, identiknya secara adat mereka tidak jauh berbeda dengan warga Mesir. Karena secara geografi pun lebih dekat dengan Mesir,” ujar Ustadz Hendra.

NGO terbesar di Gaza adalah UNRWA, lembaga kemanusiaan resmi dibawah PBB. Setiap bulan UNRWA memberikan bingkisan makanan pokok, seperti sembako, minuman dan lain-lain. Kadang orang-orang tertentu di Gaza diberi kafalah dan orang-orang miskin dikuliahkan oleh UNRWA. Skitar 60% – 70% warga Gaza bergantung pada UNRWA. Disamping tentunya ada NGO lain dari Turki, Malaysia dan Indonesia.

Kegiatan Tatsqif Maqdisiyah merupakan kegiatan rutin KNRP yang digelar sebulan sekali. Peserta yang hadir disamping pengurus KNRP juga ada dari lembaga ADARA, relawan mutarjim, dan perwakilan dari KNRP Banten. Tatsqif digelar sebagai sarana meningkatkan pengetahuan tentang permasalahan Palestina. (yp/knrp)

DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI