Gaza – 15 tahun mendekam di penjara Israel bagi seorang wanita bukanlah hal mudah. Karena itu, Lina Jarbuni, wanita yang tegar tersebut dijuluki rakyat Palestina sebagai “Jenderal Wanita” tawanan dan wanita paling lama mendekam di penjara. Ia juga dijuluki  “Ibu Para Tawanan Wanita”. Lina Ahmad Al-Jarbuni (43) akhirnya bebas kemarin pagi Ahad (16/4) dan menghirup udara bebas untuk membuktikan kepada dunia bahwa “malam gelap” pasti akan berlalu dan betapapun besi mengurung mereka pasti akan berakhir.

 

Lina Al-Jarbuni lahir 11 Januari 1974 di desa Arabah Al-Bathuf di bagian kota Akka yang dijajah Israel. Ia anak dari seorang pejuang Palestina yang pernah delapan tahun mendekam di penjara Israel. Lina adalah anak tengah-tengah antara 9 saudari perempuan dan 8 saudara laki-laki dari pejuang Palestina Haji Ahmad Al-Jarbuni yang menikahi dua orang istri. Lina tumbuh di tengah keluarga dengan budaya “perlawanan” terhadap penjajah. Lina lulus SMA tahun 1992, namun karena karena kondisi ekonominya kurang mampu sehingga tak bisa melanjutkan kuliah.

 

Zionis Israel menangkap Lina pada 18 April 2002 dan divonis penjara 17 tahun dengan dakwahan berafiliasi kepada gerakan Jihad Islami dalam membantu martir Palestina dalam melancarkan aksi serangan berani mati melawan penjajah Israel.

 

Dalam investigasi di Pusat Investigasi Jalmah selama 30 hari pertama, Lina mengalami berbagai macam penyiksaan dari tangan sipir Israel. Dari penyiksaan fisik dan psikis hingga diisolasi secara pribadi, dilarang tidur, diikat dan digantung sebelum akhirnya divonis tahanan 17 tahun. Secara sengaja Israel membiarkan kesehatan Lina sehingga kondisinya sangat mengkhawatirkan.

 

Sumber-sumber HAM menegaskan, Lina hingga kini masih mengalami bengkak-bengkak di sekujur tubuhnya, rasa sakit di bagian kedua kakinya dan kepalanya yang berkepanjangan. Seharusnya, Lina bebas dalam pertukaran tawanan pada tahun 2011. Namun Israel menolak membebaskannya karena ia memiliki kartu identitas “biru” Israel.

 

Di penjara Israel khusus wanita, Hasharon, Lina menjadi juru bicara para tawanan wanita Palestina. Hal itu memaksanya untuk belajar bahasa ibrani, selain mengajarkan menjahit dan membatik kepada tawanan wanita lainnya serta memberikan pelatihan lainnya seperti belajar ilmu fikih, tajwid dan tafsir.

 

Tawanan wanita bebas Mona Qa’dan pernah menyatakan, Lina adalah representasi tawanan-tawanan wanita Palestina sejak 11 tahu. Selama itu, dia menjadi penanggungjawab tawanan lainnya menghadapi dinas tahanan Israel. Tak ada tawanan wanita manapun yang bisa berinteraksi langsung dengan Israel. Sehingga tawanan wanita Palestina lebih aman dari makar dan tipu daya Israel selain karena Lina memiliki kemampuan bahasa ibrani. Karena itu, Lina juga harus mengetahui berbagai hal tentang kehidupan tawanan wanita Palestina di penjara Israel. Ia menjadi dokter bagi para tawanan Palestina terutama mereka yang sakit.

 

Menurut Qa’dan, Lina memiliki kepedulian berlipat terhadap tawanan wanita di bawah umur. Mereka diajarinya oleh Lina. Dia pula yang meneken dinas tahanan Israel agar tawanan wanita di bawah umur memiliki sekolah dua hari dalam sepeken untuk diajari pelajaran sekolah. Di hari-hari lain, Lina mengajarkan mereka pelajaran agama, tafsir, sunnah, dan bahasa Ibrani.

 

“Dalam beberapa hari, Lina tidak kelihatan di ruangan tahanananya karena sibuk mengajarkan tawanan wanita di bawah umur, atau menjenguk, mengobati, dan memberikan jatah makanan. Bahkan Lina yang menyiapkan susu setiap jam 8 pagi kepada tawanan wanita di bawah umur,” tegas Qa’dan. Sebagai contoh, Lina adalah ibarat ibu bagi anak-anak/bayi yang dilahirkan di penjara sepertoi Yusuf Zaq, Bara Shabih, dan Aisyah Hudli. Sehingga Yusuf memanggilnya “mama”.

 

Di tahun 2015, Lembaga Al-Quds untuk Syuhada dan Asra menyematkan julukan “Woment Palestina of Year” wanita pertama Palestina tahun 2015 karena perjuangan dan ketegarannya di penjara Israel dan kepeduliannya terhadap tawanan wanita lainnya. (yp/knrp)

 

Sumber: infopalestina