-1864603909

 

Ankara – Ketua Urusan Agama Turki, Muhammad Ghurmaz mengutuk parlemen Israel Knesset yang menyetujui proyek pelarangan dan pengekangan adzan dan pelarangan adzan di kota Al-Quds berarti mengesampingkan dan mengabaikan serta mengingkari eksistensi Islam di Palestina.

 

Ghurmaz mengatakan dalam acara peresmpuan Masjid Syekh Syamil di distrik Ghazi Antab, Turki selatan bahwa persetujuan Knesset terhadap rancangan undang-undang pengekangan dan pembatasan adzan sangat disayangkan jika terutama terjadi di Al-Quds. pelarangan ini berarti mengesampingkan dan mengabaikan serta mengingkari eksistensi Islam di Palestina secara penuh, seperti dilansir kantor berita Anadolu.

 

Ghurmaz menegaskankan posisi penting kota Al-Quds bagi umat Islam setelah kota Mekah dan Madinah. “Simbol dan syiar agung tidak akan bisa hilang meski Israel menerapkan pelarangan ini. ketika Israel melarang di satu negeri, maka seluruh warga di negeri itu akan menguandangkannya dengan bersamaan.” Tegasnya.

 

Ghurmuz menandaskan tidak mungkin hati umat manusia dikekang apalagi symbol dan syiar suci dihabisi, apalagi kebebasan berimanan dan berkeyakinan dikekang. Sebelumnya, parlemen Knesset dalam presentasi RUU larangan adzan kemarin telah menyetujuinya dengan voting 55 suara anggota setujua dan 48 menolak dari 120 yang hadir.

 

Mereka yang menolak berasal dari Partai Patriotik, Miretz dan Masa Depan Israel disamping perwakilan Arab. RUU itu melarang adzan dengan pengeras suara untuk shalat di tempat hunian antara jam 11 malam sampai jam 7 pagi (artinya dilarang adzan saat subuh) dan menerapkan denda antara 5 sampai 10 ribu syekel Israel (1300 – 2600 ribu dolar) jika melanggara. Untuk menjadi UU yang harus dijalankan, RUU harus mendapatkan persetujuan pada presentasi kedua dan ketiga. (yp/knrp)

 

Sumber: infopalestina