DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI

Warga Palestina mengibarkan bendera nasional saat menonton live-screening pengibaran bendera Palestina di markas PBB di New York, pada 30 September, 2015 di kota Ramallah
Warga Palestina mengibarkan bendera nasional saat menonton live-screening pengibaran bendera Palestina di markas PBB di New York, pada 30 September, 2015 di kota Ramallah

YERUSALEM — Seorang remaja Palestina mengungkapkan alasan generasinya melakukan gerakan penyerangan terhadap Israel, Kamis (29/10). Pada ITV, Mira remaja Palestina berusia 19 tahun mengatakan generasinya ingin Israel mengembalikan tanah yang diokupasi. “Ini tanah kami, kami ingin ini dikembalikan,” kata Mira.
Ia biasa berjalan ke kampusnya setiap pagi yang berada di wilayah Arab di Yerusalem. Molly, seorang Yahudi Israel juga biasa menggunakan jalan yang sama untuk mengantar anak laki-lakinya ke sekolah dasar.
Sejak aksi kekerasan memanas, keduanya tidak suka lagi melalui jalan itu. Dua pekan lalu, otoritas Israel memasang balok penghalang di ujung jalan yang biasa mereka lewati. Ketika Mira tiba di tempat pemberhentian bus, polisi Israel memeriksanya dari atas hingga bawah, memeriksa isi tasnya.
Molly tinggal di Yerusalem Timur dengan keluarganya. Wilayah itu direbut Israel melalui Perang Arab pada 1967. Beberapa waktu lalu, saat ia naik bus dengan anaknya, dua warga Palestina beringsut naik dengan membawa pisau dan senjata.
Mereka menewaskan tiga warga Israel di dalam bus. Sejak saat itu, Molly tidak pernah keluar rumah tanpa semprotan bubuk merica. Ia selalu waspada jika melihat orang Arab dan Palestina, juga apa yang mereka bawa.
Molly menolak membahas okupasi Israel namun menurutnya kekerasan dipicu oleh kebencian rasial. “Saya tahu sebagian besar dari mereka bukan teroris, tapi saya tidak tahu apakah ada Arab yang tidak melihat saya sebagai Yahudi atau target,” kata Molly.
Mira menceritakan bahwa di Tepi Barat polisi selalu memaksa mereka turun dari bus, menanyakan identitas dan menginterogasi. “Ini menyiksa kami, perdamaian itu tidak ada efek apa-apa pada kami,” kata Mira. “Kami tidak membenarkan kekerasan tapi hanya ini cara yang kami punya sekarang,” katanya lagi.
Molly, menolak meninggalkan tanah yang telah jadi rumahnya di Kota Suci. “Mari bergerak maju, kami ingin kesetaraan juga tapi tak bisa dengan pisau di tangan,” kata Molly. Ia dan Mira hanya berjarak beberapa mil dari satu sama lain, tapi tetap tidak bisa bersinggungan. (mk/knrp)
Sumber: Republika Online

DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI