aqsha under attack
AL QUDS – Larangan Israel terhadap akses penduduk Palestina ke Al Quds pada Ahad (4/10) disebut-sebut memicu percikan gelombang intifadha ketiga di tanah Palestina.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon mendesak para pemimpin negara untuk mengutuk serangan, menjaga ketenangan, dan melakukan upaya-upaya untuk menghindari eskalasi bentrokan.
Dilansir dari On Islam, Rabu (7/10), ratusan warga Palestina melakukan demontrasi dan terlibat bentrokan dengan pasukan Israel akibat penutupan akses tersebut.
Menurut Palestinian Red Crescent Society (PRCS), yang menyatakan keadaan darurat, pasukan Israel menggunakan peluru tajam dan peluru baja berlapis karet untuk menghalau demonstran Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Hampir 400 orang terluka, termasuk 150 di antaranya terkena luka tembak. Sementara, seorang pemuda Palestina berusia 18 tahun ditembak mati dalam bentrokan di pos pemeriksaan Tulkarem. Bentrokan pada Ahad (4/10) itu menyusul kematian dua warga Israel di tangan seorang pemuda Palestina di Al Quds pada Sabtu malam.
“PRCS menggarisbawahi bahwa praktik-praktik ini merupakan pelanggaran terang-terangan dari ketentuan hukum kemanusiaan internasional, terutama Konvensi Jenewa Keempat tahun 1949 tentang perlindungan warga sipil di masa perang,” tulis organisasi itu dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Pada hari yang sama, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan melancarkan pertarungan sampai titik darah penghabisan melawan aksi teror Palestina.
Ia juga memerintahkan langkah-langkah baru yang tegas setelah pembunuhan dua warga Israel di Al Quds, demikian dilaporkan Los Angeles Times. Langkah-langkah itu mencakup, antara lain, mempercepat pembongkaran rumah para penduduk Palestina.
Agresi terbaru ini disinyalir beberapa pihak telah memicu kekhawatiran munculnya gelombang intifadha ketiga di Palestina. Wartawan Nahum Barnea, Yediot Aharon, misalnya, menggambarkan perkembangan terakhir dengan istilah intifadha ketiga.
Tidak hanya komentator Israel, beberapa pemimpin Palestina juga menggambarkan situasi yang sama. Peristiwa di Tepi Barat dan Yerussalem “adalah tanda-tanda dari intifadha ketiga,” kata Sultan Abu Einain, pemimpin partai Fatah kepada Palestina TV.
Membahas peristiwa terbaru ini, Ban Ki Moon menelepon Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas pada Ahad malam. Kantor berita Palestina, WAFA, melaporkan, Abbas mendesak Ban Ki Moon mempercepat upaya perlindungan internasional bagi rakyat Palestina sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sedangkan pada saat yang sama, Netanyahu bersumpah akan bertarung sampai mati terhadap Palestina. Israel menduduki kota suci Al Quds, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan dalam perang tahun 1967, kemudian melakukan aneksasi lewat cara-cara yang tidak diakui masyarakat internasional ataupun resolusi PBB.
Sejak itu, Israel telah mengadopsi serangkaian langkah-langkah penindasan untuk memaksa orang Palestina keluar dari Al Quds, termasuk pembongkaran sistematis rumah-rumah mereka dan membangun pemukiman Yahudi. (mk/knrp)
Sumber: Republika Online