DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI

aqsha under attack
Haji Golib, warga Al Quds 45 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988. Rambutnya yang hitam separuh berwarna merah. Darah segar mengucur dari kepalanya. Bajunya basah, merah terkena darah. Tangannya hanya dapat mendekap luka yang mengucurkan darah. Haji Golib terluka bersama yang lain saat menghadang kepongahan Zionis Israel menistakan Al Aqsha.
Sakit, tapi lebih sakit dari menyaksikan Al Aqsha dinistakan penjajah Zionis. Sudah menjadi syahwat Israel menginginkan Al Quds (Yerusalem) sebagai ibu kota Israel Raya dan meratakan Masjid Al Aqsha untuk kemudian dibangun di atasnya Haikal Sulaiman. Keyakinan mereka, Negara Israel tidak ada artinya tanpa Jerusalem, Jerusalem tidak artinya tanpa Haikal Sulaiman.
Mewujudkan mimpi ini, keharusan dalam keyakinan mereka. Sehingga upaya pendudukan, memaksakan melakukan ritual Yahudi di kompleks Al Aqsha bukan peristiwa kemarin sore. Namun ini bagian startegi menggiring opini dunia, alAqsha adalah bagian dari zionis Israel.
Perlahan dan nampak pasti, upaya pengiringan opini berjalan terus. Startegi yang mereka pakai untuk menggiring opini dunia dengan cara membagi alAqsha secara waktu dan tempat.
Pembagian Masjid Al Aqsha secara waktu (at taqsim az zamany), membagi waktu tertentu untuk ibadah Yahudi dan di waktu yg lain untuk ibadah kaum Muslimin. Pemerintah Israel telah menerapkan kebijakan ini dengan cara melarang kaum Muslimin memasuki Masjid Al Aqsha di waktu pagi dan mengkhususkannya untuk ibadah orang-orang Yahudi.
Pemerintah Israel tidak perduli dengan penentangan warga Muslim AlQuds dengan melakukan penjagaan dan penolakan kehadiran Yahudi di AlAqsha. Apalagi kehadiran mereka didorong para tokoh ekstrimis Yahudi yang menginginkan kehancuran AlAqsha sekelas Yahuda Gilk.
Berbagai alasan Ritual dan ziarah mereka buat agar tetap hadir di kiblat pertama umat islam ini. Sekalipun ujungnya bentrok dengan para penjaga AlAqsha dan muslim yang saat itu hadir beribadah, bukanlah menjadi halangan bagi Israel. Benyamin Netanyahu seolah berlomba dengan mimpinya agar Haikal segera berdiri di atas reruntuhan AlAqsha.
Bagi muslim, seperti yang diungkapkan Syikh Roid Shalah, ketua Gerkan Islam di dalam Palestina mengatakan, tidak ada artinya Palestina tanpa kota AlQuds, dan tidak ada artinya AlQuds tanpa masjid AlAqsha. AlAqsha adalah qiblat pertama, amanah sekaligus kehormatan umat Islam.
Bangsa Palestina, terutama warga kota Al Quds sebagai representasi dari umat islam dunia, tentu tidak ingin perlakuan nista terhadap alaqsha menjadi pemandangan setiap hari. Haji Gholib untuk kedua kalinya bersimbah darah tahun 96 dalam rangka mempertahan kehormatan alaqsha sebagai bentuknya panggilan dari amanah.
Bahkan pada penyerbuan dan pendudukan alAqsha pada Ahad 13 September 2015 kemarin, Haji Golib kembali cedera di kepalanya bersama para wanita penjaga AlAqsha dan remaja lainnya. Polisi Israel bersama para pemukim Yahudi merangsek masuk ke dalam kompleks alAqsha. Mereka beralasan untuk memperingati tahun baru Yahudi.
Sontak, para penjaga Al Aqsha berbaris menghadang. Bentrok pun tidak terhindarkan, berbekal takbir dan Quran di tangan, sekuat tenaga mereka menahan. Namun apa daya takbir mereka dibalas dengan hujan tembakan gas air mata. Para pemuda yang bertahan di Mushalla AlQibly, di kepung. Granat suara berdentum, gas air mata pekat memenuhi ruang Al Qibly. Bahkan asap tebal membumbung tinggi berasal dari AlQibly.
Al Aqsha, karpet merah mu terbakar granat suara Israel. Para wanita penjaga AlAqsha, orang dewasa dan bahkan anak-anak rambutnya bersemir merah darah. Dunia bisu, sebagian besar Muslim senyap tanpa suara. Entahlah, karena tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu. Itu AlAqsha mu bukan bukan Haikal mereka. Itu qiblat mu bukan pusara nenek moyang penjajah.
Namun masih ada banyak pertanyaan, apakah hal itu adalah sebuah konflik? Atau dunia akan sadar setelah Al Aqsha benar-benar dibagi secara tempat (at taqsim al makany). Mereka mengkhususkan sebagian area Masjid Al Aqsha untuk membangun sinagog Yahudi, sebagai tahap awal untuk mendirikan Salomon Temple palsu.
Israel telah memulai, pemerintah Israel telah merampas sebagian wilayah pemakaman Ar Rahmah yang berdempetan dengan Masjid Al Aqsha. Strategi ini sebagai tahap awal untuk membuka gerbang yang tersambung ke area timur Al Aqsha, lokasi yang nantinya akan dibangun sinagog. Apakah akan menunggu sinagog itu berdiri dan Al Aqsha mu terhapus dari sejarah dunia?
Azhar Suhaimi
Ketua Biro Kajian dan Informasi KNRP

DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI