DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI

 
aksi boikot3
GAZA CITY — Ibrahim Abu Hamed, pengungsi Palestina yang tinggal di Kamp Pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza, sangat prihatin mengenai masa depan anak-anaknya setelah Badan Pekerjaan dan Bantuan PBB (UNRWA) belum lama ini memangkas layanannya, terutama pendidikan.
“Krisis keuangan mungkin memaksa pembekuan layanan yang berkaitan dengan program pendidikan lembaga ini,” kata UNRWA.
UNRWA telah memperingatkan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon UNRWA harus memperoleh 101 juta dolar AS untuk menutup defisit sampai pertengahan Agustus.

Peringatan UNRWA disampaikan di dalam satu pernyataan yang dikirim melalui surel kepada wartawan, dan mengatakan organisasi tersebut bisa dipaksa menghentikan layanan pendidikan yang diberikannya buat pengungsi Palestina Palestina sampai UNRWA bisa menutup defisit keuangannya.
“Itu akan berarti penundaan tahun ajaran baru bagi setengah juta siswa yang belajar di sebanyak 700 sekolah dan delapan pusat pelatihan ketrampilan di seluruh Timur Tengah,” kata UNRWA.
Sejak UNRWA didirikan setelah Nakba atau Bencana Palestina 1948, ketika Israel berdiri, organisasi tersebut telah menyediakan bantuan kemanusiaan serta layanan medis, pendidikan dan kebersihan buat pengungsi Palestina di kamp pengungsi di Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Yordan, Suriah dan Lebanon.
Abu Hamed, yang menyelamatkan diri dari gelombang panas yang menerpa wilayah itu dan duduk di kursi di luar rumahnya. Rumahnya berukuran 110 meter persegi di jalan sempit di salah satu kamp pengungsi paling miskin di Palestina.
Ia mendengarkan radio kecil. Ia mengikuti berita mengenai pemotongan yang dilakukan oleh UNRWA.
Ia sedang mendengarkan pernyataan Sandra Mitchell, Wakil Komisaris Jenderal UNRWA di Jalur Gaza yang berbicara mengenai krisis keuangan tersebut.
“Kami ingin mengonfirmasi kepada penduduk di sini di Jalur Gaza kami berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan dana yang cukup dan nyata buat UNRWA,” kata Sandra Mitchell.
Tapi ia menambahkan sejauh ini, UNRWA tak memiliki cukup dana untuk mempertahankan sekolah tetap beroperasi dari September sampai Desember tahun ini.
“Menyediakan pendidikan untuk setengah juta pelajar dan mahasiswa Palestina adalah tanggung jawab yang mestinya telah dipenuhi,” kata Sandra Mitzhell.
Ia menekankan, “Tak mungkin untuk meminta pegawai kami bekerja tanpa upah. UNRWA tidak dijual. Kami ingin masyarakat internasional memenuhi janjinya.”
Dia mengatakan UNRWA menderita krisis fiskal parah yang meningkat jadi kekurangan sebesar 101 juta dolar AS. (mk/knrp)
Sumber: Republika Online

DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI