Antrian Makan Siap Saji bantuan rakyat Indonesia untuk Pengungsi Palestina di Kamp Yarmouk Suriah, Mei 2015.
Antrian Makan Siap Saji bantuan rakyat Indonesia untuk Pengungsi Palestina di Kamp Yarmouk Suriah, Mei 2015.
Antrian Makan Siap Saji bantuan rakyat Indonesia untuk Pengungsi Palestina di Kamp Yarmouk Suriah, Mei 2015.
DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI

BEIRUT – Pusat Studi dan Konsultasi “Zaitun Center” menggelar diskusi di kantornya di ibukota Libanon, Beirut, membahas seputar masa depan pengungsi Palestina di Suriah, akhir pekan lalu. Diskusi ini diikuti oleh para pakar peneliti dan spesialis masalah Palestina.

Diskusi ini dipimpin oleh Dirut Zaitun Center Dr. Muhsin Muhammad Shaleh. Dalam diskusi dipaparkan situasi para pengungsi Palestina di Suriah berikut apa yang mereka alami mulai dari pembunuhan, pengusiran, penangkapan dan penderitaan selama peristiwa berlangsung di Suriah. Demikian informasi yang dilansir dari laman infopalestina.com.

Menurut data, sampai awal tahun 2015, dari total lebih dari 550 ribu pengungsi Palestina yang tinggal di Suriah, ada sekitar 270 pengungsi yang terusir dan masih berada di dalam wilayah Suriah dan lebih dari 100 ribu pengungsi sudah keluar dari Suriah, lebih dari 2000 pengungsi telah gugur, serta ratusan lainnya ditangkap dan hilang.

Masih menurut data yang disampaikan dalam diskusi, sejumlah besar kamp-kamp pengungsi Palestina yang berjumlah 15 kamp yang ada di Suriah, sudah berbah menjadi arena perang. Dan perang ini telah menghancurkan kamp-kamp baik secara total maupun sebagian serta menjadikan penduduknya terusir dari kamp-kamp tersebut.

Para peserta menegaskan pentingnya faksi-faksi Palestina dan pengungsi Palestina di Suriah untuk menempuh kebijakan netral, demi meringankan dampak peristiwa perang ini terhadap para pengungsi. Mereka juga menegaskan pentingnya membuat rujukan tunggal Palestina yang memiliki visi politik tunggal untuk mendekati situasi pengungsi di sana serta bekerja melindungi mereka dan menempatkannya secara netral.

Para peserta juga membuat skenario yang bisa dilakukan demi masa depan pengungsi Palestina di Suriah. Skenario pertama adalah kemungkinan adanya solusi internasional antara oposisi dan rezim sehingga tidak ada satu pihak yang menang. Solusi semacam ini mungkin bisa membuat pengungsi Palestina untuk tetap bertahan di negara Suriah. Namun dampak perang yang telah merobek-robek harmoni sosial dan ekonomi akan mencerminkan kelamahan pemerintah pusat yang akan tenggelam dalam menyelesaikan masalah internal. Situasi ini mengandung benih-benih ledakan di dalamnya dan bisa menimbulkan keadaan tidak stabil bagi para pengungsi Palestina di sana.

Skenario kedua adalah bisa negara Suriah terpecah dan ini bisa memunculkan negara-negara kecil yang lemah yang berdiri atas dasar etnis dan golongan. Ini membuat masa depan eksistensi pengungsi Palestina tergantung pada negara-negara kecil tersebut dan mengembalikan definisi mereka secara geografis berdasarkan hal itu. Dari kedua skenario tersebut, bisa membebani bangsa Palestina dan isu Palestina dengan harga yang besar.

Para perserta menyinggung tentang skenario kebangkitan bersama yang melampaui batas-batas etnis dan golongan dan bisa diajukan usulan kuat untuk diakomodasi semua pihak, yang mengekspresikan kemauan bangsa-bangsa kawasan yang jauh dari kediktatoran lokal atau intervensi luar. Hal ini bisa memberi peluang titik tolak baru persoalan Palestina yang padanya umat berhimpun dan kompasnya bersatu menuju ke sana. [zk/knrp]

DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI