deaf-hearing-impaires-students-in-gaza
GAZA– Ide pembuatan kartun dimulai setelah perang, setelah terinspirasi untuk membantu anak-anak yang mengalami trauma di Gaza. Mereka tinggal dalam kondisi mengalami kekerasan bersenjata. Mengakibatkan mereka menderita masalah psikologis dan perilaku selama perang. Gagasan pembuatan di balik kartun ini adalah untuk menunjukkan kepada dunia apa yang sebenarnya anak-anak di Jalur Gaza alami dan saksikan selama perang.
Anak-anak tuna rungu ini berada dalam keadaan terisolasi selama perang karena mereka tidak mampu untuk pergi ke sekolah atau datang kepada seseorang untuk menjelaskan apa yang terjadi di sekitar mereka karena tidak semua orang mampu menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan alasan di balik kebrutalan Zionis Israel.
Mereka juga menderita akibat pemadaman listrik dan tidak dapat berkomunikasi dengan siapa pun, karena mereka harus melakukannya hanya dalam bahasa isyarat, dan meskipun orang tua berada di dekat mereka, namun masih sulit untuk berkomunikasi dalam gelap, sehingga menjadikan anak-anak berkebutuhan khusus ini terisolasi.
Ketakutan terbesar yang dirasakan oleh anak-anak tuna rungu di Gaza ini adalah takut kehilangan lengan dan tangan mereka, karena hanya itulah alat komunikasi mereka, sehingga membuat mereka takut. Mereka selalu berharap jika sesuatu terjadi kepada mereka, mereka ingin segera menjadi syahid daripada kehilangan lengan mereka. Jika memang itu yang terjadi mereka tidak akan memiliki cara lagi untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Salah satu bentuk rehabilitasi psikologis yang digunakan oleh sebuah lembaga yang menangani anak-anak tuna rungu Atfaluna adalah dengan media gambar, yaitu berupa kartun sebagai sarana mereka mengekspresikan diri. Mereka senang bahwa kartun ini sangat populer dan mendapat perhatian dari seluruh dunia. (mk/knrp)
Sumber: Middle East Monitor