DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI

Abbas-y-Netanyahu
Masih ingat murka Benyamin Netanyahu saat Eropa nyatakan Hamas bukan kelompok teroris? Ya, Netanyahu lah yang sangat marah dan bermuram durja. Pernyataan ini bukan sekedar pengakuan, namun menang di pengadilan Eropa. Banyak yang mengatakan, kelompok di Gaza ini tidak hanya menang di darat, laut dan udara tapi juga menang di meja hijau.
Lalu di balik rintihan warga Gaza menghadapi musim dingin yang ekstrim dan pasokan listrik yang langka, kota Paris, Perancis gempar. Majalah Charlie Habdo yang kerap menghina nabi diserbu sejumlah orang tidak dikenal. Belasan awak majalah ini tewas, empat diantarnya adalah orang Yahudi. Belakangan Al Qaeda Yaman mengaku bertanggungjawab seperti yang di siarkan TV A lJazeera Arabic. Mereka tidak suka atas tindakan penghinaan majalah ini kepada orang yang sangat disegani umat Islam sedunia.
Dunia gempar atas peristiwa berdarah ini. Pro kontra terjadi. Puncaknya, para pemimpin dunia hadir pada aksi mengecam pembunuhan kru majalah tersebut. Namun ada yang menarik dari peristiwa aksi ini, PM Israel hadir sebagai bentuk solidaritas, termasuk untuk 4 warga Yahudi yang tewas di peristiwa ini. Dan yang lebih menggelikan, Presiden Abbas juga turut hadir.
Atas dasar kemanusiaan, tentu cara-cara kekerasan tidak dapat diterima. Namun ketika definisi teroris yang dipakai Israel untuk menangkap, menyakiti dan membunuh rakyat Palestina tentu juga kita tidak bisa terima. Israel adalah penjajah dan Indonesia secara konstitusi sangat menentang penajajahan. Sehingga kalau dilihat dari kaca mata itu, Benyamin Netanyahu ketika hadir di aksi itu sebenarnya lebih menelanjangi dirinya sebagai tokoh teroris yang sejati.
Maka jangan heran, media sosial seperti Syehab Agency, Jaringan Berita Quds dan media sosial Arab lainnya mengolok-olok kehadiran Netanyahu di aksi Paris tersebut. Ada yang menyebutnya, “Teroris Teriak Teroris”. Ya, kenapa tidak. Betapa tidak adilnya, yang dibunuh Israel pada serangan 2014 atas Gaza tidak kurang dari 2000 orang, 10 ribu orang terluka, dan belum lagi masalah infra struktur lainnya yang rusak parah. Lantas siapakan siapakan teroris yang sebenarnya?
Tidak kurang menggelikan juga, Abbas jadi bulan bulanan akun sosial grup maupun pribadi. “Abbas lebih mementingkan korban Charlie dari pada ribuan warga Gaza yang menjadi korban Zionis Israel pada serangan 2014 lalu”. Kekecewaan mereka atas sikap Abbas ini terlihat kontras di akun-akun mereka, baik dengan kata kata maupun dengan sindiran karikatur yang menyindir tajam maupun dan dengan sindiran yang cukup menggelikan.
Namun yang tidak kalah penting dari ulasan akun media sosial Arab tentang Netanyahu dan Presiden Abbas. Sambutan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pada kunjungan Presiden Abbas di Istananya. Sambutan secara militer Khilafah Utsmaniah yang begitu megah, sangat istimewa dan sarat dengan pesan. Erdogan menampilkan 16 unit pasukan Khilafah Utsmaniah lengkap dengan senjata dan seragam khas mereka. Gagah dan sangat berwibawa.
Bagi Perancis, Erdogan seolah mengingatkan, bahwa Khilafah Utsmaniah pernah menguasai sebagian Eropa. Untuk Israel, sampai sekarang Turki adalah negara yang keras menentang Israel dan mendukung kuat rakyat Palestina. Bagi Abbas, tentu sangat faham dengan pepatah Arab yang mengatakan, “al-hurru takfihi al-isyarah”. Orang yang bebas, cukup dengan isyarat saja. Lalu, maukah Abbas memahaminya?
 
Azhar Suhaimi
Ketua Biro Kajian dan Informasi KNRP

DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI