gazan5
Badan PBB yang bertugas memberikan bantuan untuk Palestina akan menghentikan kegiatannya di Jalur Gaza yang dilanda perang karena kekurangan dana.
GAZA – Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) akan menghentikan program bantuan ke Gaza pada akhir Januari, di mana saat akhir bulan  itu akan kehabisan uang untuk kegiatan bantuan di Gaza, jelas juru bicara UNWRA Christopher Gunness mengatakan pada hari Kamis.
Gunness mengatakan bahwa UNRWA telah menerima hanya USD 135 juta dari sekitar USD 720 juta yang dibutuhkan untuk operasi darurat dalam membangun kembali rumah yang rusak dan menyediakan tempat penampungan bagi pengungsi di Gaza.

“Karena kekurangan ini, kita akan terpaksa untuk menghentikan program pada akhir bulan,” kata Gunness. “Kekhawatiran kami adalah hal ini akan berdampak besar bagi kelangsungan hidup warga Gaza.”

Selain itu, badan bantuan Oxfam mengatakan bahwa badai musim dingin yang ekstrem, ketiadaan listrik, dan kekurangan bahan bakar dan gasuntuk  memasak telah memburuk situasi di Gaza.
“Banyak orang masih mengungsi, masih banyak yang kekurangan alat pemanas dan pencahayaan dan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, lebih dari enam bulan setelah berakhirnya perang,” kata juru bicara Oxfam di Gaza, Arwa Mhanna.
Israel melancarkan serangan terhadap Gaza pada awal Juli 2014 dan kemudian diperluas kampanye militernya dengan invasi darat ke wilayah Palestina yang terkepung. Perang berakhir pada akhir Agustus tahun itu. Hampir 2.200 warga Palestina tewas dan sekitar 11.000 orang terluka.
Dalam beberapa bulan terakhir, banjir besar juga melanda warga Gaza, mereka bergulat dengan kehancuran dari perang Israel, meninggalkan rumah mereka dalam kondisi cuaca dingin yang ekstrem. Hancurnya pembangkit listrik satu-satunya di Jalur Gaza yang terkepung juga memperburuk kondisi hidup mereka.
Gaza telah diblokade oleh rezim Israel sejak tahun 2007, yang menyebabkan penurunan standar hidup, tingkat pengangguran belum pernah terjadi sebelumnya, dan kemiskinan tak henti-hentinya. (mk/knrp)
Editor: Mashan Khoiriyah
Sumber: Press TV