Campaign 1
Jakarta (18/12) – Kementerian Kesehatan Palestina mengeluarkan rilisnya pasca serangan zionis Israel selama 51 hari di Gaza, selain korban jiwa, kehancuran infrastruktur, kekurangan pasokan bahan pangan, juga kebutuhan listrik yang sedang mengancam masyarakat Gaza.  Sejak krisis listrik, ribuan pasien terancam kesehatannya dan para petugas medis tidak bisa memberikan layanan di sejumlah rumah sakit.
Akibatnya, layanan kamar operasi dan laboratorium terhenti, puluhan anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan kesehatan tidak bisa mendapatkan layanan inkubator. Para pasien gagal ginjal juga termasuk mereka yang akan tidak mendapatkan layanan cuci darah disebabkan krisis listrik ini. Bahkan, mobil ambulans terpaksa tidak beroperasi akibat minimnya persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kondisi darurat di sejumlah sektor medis akan semakin bertambah, jika krisis listrik terus berkelanjutan disebabkan larangan impor bahan bakar ke sejumlah rumah sakit, dan tidak beroperasinya pembangkit listrik Gaza karena dibombardir militer Israel. “Sebelumnya ada dua generator listrik, salah satunya berhasil diperbaiki yang dibiayai Qatar,” kata Inas, salah satu warga Gaza yang dihubungi KNRP, Rabu (17/12) malam.
Namun lanjut Inas, generator ini memerlukan bahan bakar solar, sementara sekarang di Gaza tidak ada pasokan BBM. “Kalaupun ada, itu dipasok dari penjajah Israel dan hanya melalui perbatasan Karim Abu Salim, satu satunya perbatasan untuk memasukan bahan bakar ke Gaza,” katanya.
Masalah lainnya, setelah generator listrik dapat beroperasi, pasokan listrik dilakukan secara bergilir, setiap wilayah mendapatkan 6 jam perhari. “Tapi itupun kalau Israel membolehkan pasokan bahan bakar secara berkala, bahkan yang sering terjadi keputusan sepihak Israel selalu berubah-ubah setiap pekan,” terang Inas.
Untuk menanggulangi masalah ini, ada juga yang menggunakan Uninterruptible Power Supply (UPS), namun membutuhkan dana yang cukup besar, satu UPS seharga 500 dolar AS. “Sayang, kendalanya harus ada penggantian  baterai secara berkala dan pengisian kembali baterai ini membutuhkan listrik juga,” paparnya.
Tidak hanya itu, Ada juga upaya lain, menggunakan pembangkit listrik tenaga surya, namun pemakainya terbatas pada rumah sakit, dan sekolah-sekolah.
Selain masalah pasokan yang sulit dan harga yang mahal, hal senada disampaikan Muslim yang bekerja di Palestinian Cultural Organization, “Saat ini, musim dingin dan warga sangat membutuhkan pasokan listrik, apalagi setelah serangan Israel ke Gaza beberapa bulan lalu, banyak warga yang kehilangan rumah dan terpaksa hidup di tenda-tenda seadanya,” terang Muslim yang kini bermukim di Malaysia.
Bagi warga Gaza, ini tentu bukan perkara mudah, apalagi perbatasan Rafah sampai detik ini belum, ada kejelasan kapan akan dibuka kembali. “Harus ada solusi, meskipun kecil, seperti Gerakan 60 Menit Tanpa Lampu sebagai solidaritas untuk Gaza, saya rasa penting untuk dilakukan,” pungkas Muslim. (azh/bki/knrp)