intifadhah
Mu’taz Hijazi, warga Al Quds mendadak menjadi buah bibir warga Tepi Barat, Palestina, bahkan namanya menghentak seluruh nadi zionis Israel. Keberaniannya melampui dinding dan jeruji besi penjara zionis Israel yang pernah memenjarakannya selama 12 tahun. Tahun 2012 silam, pemuda ini dibebaskan dari tahanan Israel.
12 tahun berlalu, fisiknya memang terpenjara, 12 tahun juga membuatnya semakin cinta pada kiblat pertama umat Muhammad SAW ini, “Selama zionis bermimpi untuk mendirikan Haekal hayalannya di lokasi Masjid Al Aqsha, maka Akulah duri penghalang mimpi zionis,” ungkapnya setelah keluar dari penjara Israel.
Pasca serangan 51 hari zionis Israel atas Jalur Gaza 2014, yang menyebabkan 2000 orang lebih meninggal, puluhan ribu lainnya mengalami luka luka. Di saat yang sama, di Tepi Barat, Khan Yunis, Nablus maupun kota-kota lainnya hampir setiap hari terjadi bentrok pemuda Palestina dengan polisi dan keamanan Israel.
Bentrok yang dipicu solidaritas atas kekejaman zionis Israel di Jalur Gaza, juga atas kelaliman teroganisir zionis atas Masjid Al Aqsha. Setiap hari warga Palestina dihadirkan tontonan gratis Aksi penyerbuan dan pendudukan warga penjajah Israel atas Masjid Al Aqsha yang dibantu tentara Israel bersenjata lengkap.
Perlakuan semena-mena ini tidak menjadi serial cerita yang berlalu begitu saja. Rakyat Palestina Marah. Batu-batu dari tangan kecil pemuda Palestina berhamburan menghinakan muka penjajah. Mu’taz Hijazi tampil dengan caranya sendiri mewakili tangis bangsanya yang sudah lama kering. Mewakili kekurang pedulian sebagian warga dunia dan bangsa Arab yang masih mengganggap Israel bukan penjajah.
Tanggal 29 Oktober 2014 menjadi hari yang tidak pernah dilupakan zionis Israel. Mu’taz menembakkan peluru dan kemarahan bangsanya ke arah Yehuda Glick. Bapak Yahudi dan insinyur penggagas penghancur Masjid Al Aqsha ini bersimbah darah. Lukanya yang parah menghantarnya ke rumah sakit.
Sehari setelah peristiwa ini, Mu’taz di gerebek pihak zionis Israel. Ia dibunuh di loteng kediamannya oleh keamanan Israel. Di hari yang sama tanggal 30 Oktober 2014 masjid Masjid Al Aqsha ditutup resmi penjajah Israel. Warga yang melakukan ibadah di dalam Komplek Masjid Al Aqsha dipaksa keluar. Banyak dari mereka yang melakukan perlawanan mendapat perlakuan kasar dan bahkan ditangkap polisi Israel.
Kota Al Quds, Khan Yunis, Al Khalil dan seluruh Tepi Barat Memanas. Perlawan rakyat meluas. Gang dan jalan-jalan menjadi saksi kemarahan rakyat Palestina. Batu, mercon dan ketapel pemuda Palestina  menyergap seluruh penjuru patroli Zionis. Asap gas air mata menjadi lazim terlihat sebagai balasan dari polisi dan tentara Israel.
Pada tanggal 5 Oktober 2014, Israel menyebar brosur ajakan menyerbu masuk Masjid Al Aqsha. Dalam ajakan itu, foto Yehuda Gilck ditampilkan untuk memprovokasi warga yahudi untuk ikut. Masjid Al Aqsha gempar. Bahkan Dr. Yusuf Al Qardawi menyerukan penyelamatan atas Masjid Al Aqsha. “Segenap umat islam dituntut untuk berjihad fi sabilillah, wajib untuk seluruh umat Islam sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.”
Seruan ulama dan perlawanan warga terus berlanjut tanpa dihiraukan penjajah Israel. Setiap hari warga Yahudi masuk ke komplek Masjid Al Aqsha bahkan masuk bersepatu ke dalam Masjid Kubah Emas dengan pengawalan ketat tentara atau polisi Israel. Tepi Barat kian memanas.
Akibatnya, rekan sejawat Mu’taz Hijazi, warga Palestina yang pernah mendekam di penjara Israel 19 tahun Ibrahim Akkari, tidak diam atas penistaan ini. Ia menabrakkan mobilnya di kerumunan warga Israel. Banyak yang luka dan cedera. Namun sayang, pesan kemarahan warga Palestina ini tidak dibaca dengan baik. Penjajah Israel justru semakin kalap dengan membunuh, menangkap warga yang terindikasi terlibat melakukan perlawanan. Tidak hanya itu, rumah keluarga Mu’taz ia robohkan. Demikian juga dengan rumah-rumah warga lainnya juga bernasib sama.
Syaikh Roid Salah, pimpinan Harakah Islamiah di Palestina pada wawancaranya dengan TV Al-Jazeera, sangat menyayangkan sikap zionis Israel yang tidak memperhatikan kemarahan rakyat Palestina. Sehingga menurutnya, Israel jangan pernah menyalahkan kalau ada rekasi yang keras dari rakyat Palestina.
Puncak kemarahan warga Palestina ini terlihat jelas pada peristiwa pembunuhan rabi di salah satu tempat ibadah Yahudi. Lima orang tewas akibat ditikam pisau dapur warga Palestina. Kakak beradik yang melakukannya ini akhirnya meninggal setelah diterjang timah panas keamanan Israel.
Namun peristiwa demi peristiwa yang terjadi akibat kesewenangan ini, tidak menjadi tambahan pelajaran berharga bagi Israel. Padahal jauh sebelumnya, peristiwa yang hampir sama juga pernah terjadi. Peristiwa ini dikenal dengan Intifadah ke dua atau Intifadhah Masjid Al Aqsha. Awalnya, tanggal 29 september 2000 Perdana Menteri Israel Ariel Sharon dan beserta 1.000 orang rombongan bersenjata memasuki serta menistakan Masjid Al-Aqsha. Bentrok pun tidak bisa dihindarkan yang mengakibatkan korban banyak berjatuhan.
Demikian juga dengan Intifadhah Palestina Pertama yang dimulai pada 8 Desember 1987. Peristiwa besar dalam sejarah Palestina ini  dilatarbelakangi oleh semakin kerasnya aksi teror dan sikap represif Israel terhadap bangsa Palestina. Karena rasa tertindas dan kehilangan yang dirasakan warga Palestina sejak peristiwa pengusiran paksa oleh tentara Yahudi pasca perang 6 hari, juga karena ketidak pedulian negara-negara maupun organisasi-organisasi lainnya atas permasalahan Palestina. Gerakan Intifadhah ini kemudian berakhir pada 1993 dengan ditandatanganinya Persetujuan Oslo dan pembentukan Otoritas Nasional Palestina.
Blokade Jalur Gaza Pasca Serangan 51 Hari
Di sisi lain, pasca serangan Israel terhadap Jalur Gaza selama 51, selain meninggalkan ribuan korban meninggal, luka- luka dan kehancuran yang luarbiasa dari sisi infrastuktur, juga masalah pembangunan Jalur Gaza kembali.
Namun diantara kendalanya adalah masih tertutupnya pintu perbatasan Rafah. Juga beberapa peristiwa internal di pemerintahan koalisi dan masalah teknis lainnya yang terindikasi kurang transparan. Masalah-masalah ini juga termasuk menjadi kendala tersendiri.
Selain itu di Israel sendiri, Netanyahu sebentar lagi akan mengakhiri jabatannya dan akan mengadakan pemilihan umum kembali. Bagi banyak kalangan, “ketidak suksesannya” pada serangan 51 hari terhadap Jalur Gaza akan berpengaruh pada dukungan warga Israel padanya. Sehingga kemungkinan besar Netanyahu tidak sanggup mendongkrak pamornya dengan cara menghidupkan kembali ambisi penguasaan atas Masjid Al Aqsha untuk selanjutnya ke masalah pembangunan Haikal impian zionis melalui kelompok garis keras kanan Yahudi.
Namun, pemerintahan Netanyahu akan membayar mahal proses ini dengan bangkitnya Intifadhah ke-3 dari warga Palestina, yang saat ini sedang berlangsung. Sementara itu, sampai sekarang masalah perbatasan Rafah yang menjadi urat nadi warga Jalur Gaza tidak ada kejelasan sampai kapan akan dibuka oleh pemerintah Mesir yang saat ini juga sedang bergejolak.
Bagi warga Palestina di Tepi Barat yang berhadapan langsung dengan kepentingan Netanyahu yang menggunakan isu Masjid Al Aqsha tentu akan mendapatkan perlawanan sengit dari warga Tepi Barat. Lalu bagi warga Jalur Jalur Gaza yang sampai hari ini terus tertekan pasca serangan 51 hari menjadi pemantik yang ampuh untuk “menekan” Pemerintahan Netanyahu.
Dan yang tidak kalah pentingnya bagi Netanyahu jelang pemilu Israel adalah memelihara nama baiknya dengan mengakomudir keinginan kelompok kanan Yahudi yang inginkan kehancuran Masjid Al Aqsha dan mengakomodir janji keterwujudan Daulah Yahudiah yang menjadi cita-cita seluruh Yahudi.
Namun satu hal yang menjadi sandungan sulit bagi zionis Israel. Syaul Aron masih tertawan oleh pejuang Jalur Gaza. Sebelumnya Gilat Syalit seorang kopral zionis Israel tertawan, ditebus dengan 1027 tawanan Palestina. Bagi Israel ini adalah kekalahan yang sangat memalukan. Akankah Israel dipermalukan untuk yang kesekian kalinya? (zk/knrp)
 
Oleh : Azhar Suhaimi | Ketua Biro Kajian dan Informasi KNRP