2014082627
Ada 30.000 kasus kemanusiaan yang membutuhkan penanganan, sementara 6.000 warga Palestina yang terdampar di Mesir menunggu dibukanya perbatasan Rafah yang telah ditutup selama lebih dari empat minggu, Departemen Dalam Negeri dan Keamanan Nasional di Gaza mengatakan.
Berbicara dalam jumpa pers kemarin, juru bicara Kementerian Dalam Negeri di Gaza, Eyad Al-Bozum, mengatakan bahwa orang-orang yang dianggap masuk dalam kasus kemanusiaan adalah yang menderita penyakit serius, memiliki izin tinggal, mahasiswa, atau yang memiliki paspor asing.
Dia menambahkan bahwa penutupan perbatasan Rafah telah menciptakan bencana kemanusiaan di Gaza, karena hanya garis hidup dan jendela warga ke dunia luar. Al-Bozum menjelaskan bahwa banyak konvoi bantuan kemanusiaan dan delegasi solidaritas tidak mampu untuk masuk Gaza, terutama setelah perang terbaru yang berlangsung 51 hari.
Menurut Al-Bozum, perbatasan Rafah telah ditutup selama 208 hari tahun ini karena kebijakan baru Mesir. Ini telah meningkatkan penderitaan warga Jalur Gaza, yang telah menderita selama delapan tahun di bawah pengepungan Israel di wilayah itu.
Dia menekankan bahwa tidak ada pembenaran untuk penutupan pemerintah Mesir dari perbatasan Rafah, meraka mencatat bahwa perbatasan itu tidak pernah menjadi beban keamanan Mesir aaupun pernah ada pelanggaran keamanan.
Al-Bozum meminta pemerintah Mesir untuk membuka perbatasan Rafah segera untuk memfasilitasi keluar masuknya warga dan barang dalam kondisi bencana yang saat ini diderita oleh rakyat Gaza. (mk/knrp)
Sumber: www.middleeastmonitor.com
Pemerintah Mesir menutup tanah Rafah sepenuhnya pada tanggal 24 Oktober mengutip memburuknya situasi keamanan di Sinai. Hal ini diketahui kapan akan membuka kembali.
The Rafah adalah satu-satunya perlintasan yang melayani 1,8 juta warga Palestina yang tinggal di Gaza yang terkepung yang tidak tunduk pada kontrol Israel.