265359_apartemen-warga-palestina-yang-dihancurkan-israel--11-agustus-2014_663_382
Utusan khusus PBB untuk Timur Tengah, Robert Serry, pada Selasa kemarin mengatakan otoritas Israel dan Palestina telah sepakat untuk memulai pembangunan kembali Jalur Gaza paska porak-poranda akibat serangan udara Israel. PBB yang mensponsori kesepakatan rekonstruksi dapat membantu perbaikan ekonomi Palestina yang hancur di Gaza.

Stasiun berita Al Jazeera, Rabu, 17 September 2014 melansir pernyataan Serry yang menyebut kesepakatan itu bersifat sementara. Namun, dia menegaskan agar segera diimplementasikan.
“Ini harus segera dilakukan tanpa adanya lagi penundaan, karena merupakan bagian dari langkah penting terhadap pencabutan pembatasan yang masih ada dan sebuah sinyal harapan baru warga Gaza,” ungkap Serry.
Dengan adanya kesepakatan itu, maka pekerjaan untuk membangun kembali Jalur Gaza dapat dimulai. Proses tersebut melibatkan sektor swasta di Gaza dan peranan utama kepada otoritas Palestina dalam upaya pembangunan kembali.
Dengan adanya kesepakatan itu, maka PBB menjamin keamanan dalam pengiriman bahan-bahan material sepenuhnya ditujukan bagi kepentingan publik. Termasuk tuntutan Israel yang meminta agar semen dan bahan material impor lainnya tidak digunakan untuk membangun kembali bunker komando Hamas atau perbatasan terowongan untuk menyerang Israel.
Laman Jerman, Deutsche Welle, mengutip untuk membangun kembali Gaza, dibutuhkan dana sekitar US$7,8 miliar. Dia mengaku terkejut ketika berkunjung ke Gaza dan menyaksikan sendiri situasi di sana yang luluh-lantak akibat serangan udara Israel selama 50 hari.
Dia memperkirakan terdapat 18 ribu rumah yang hancur atau dalam keadaan parah, sekitar 100 ribu orang terpaksa kehilangan rumah dan 111 fasilitas PBB yang hancur akibat serangan udara Israel.
“Konflik Gaza merupakan tragedi kemanusiaan yang mengejutkan dan telah mengorbankan nyawa dalam jumlah mengerikan,” ungkap Serry.
Sekitar 2.100 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel. Sebagian besar dari mereka merupakan warga sipil, termasuk ratusan anak-anak. Sementara di sisi Israel, sebanyak 66 pasukan Israel dan lima warga sipil ikut terbunuh.
Ekonomi melemah
Presiden Palestina, Mahmour Abbas, baru-baru ini mengatakan dana untuk membangun kembali Gaza sama saja dengan 2,5 kali GDP kota itu. Sementara, Bank Dunia menyebut perang selama 50 hari tersebut, berkontribusi terhadap pernurunan pertumbuhan ekonomi di Gaza.
Tujuh tahun sebelumnya, ekonomi meningkat. Kini, perekonomian mereka mengalami penurunan drastis, bahkan hingga empat persen pada tahun ini.
Menurut Bank Dunia, penurunan ekonomi tidak semata-mata disebabkan serangan udara Israel, tetapi juga adanya pembatasan alur produk menuju Gaza dan penurunan bantuan asing ke otoritas Palestina.
Perkembangan ekonomi di Gaza sejak tahun 2012 lalu menurun dan melambat hingga kurang dari dua persen di tahun 2013. Namun, diprediksi akan kembali menguat di tahun 2015, jika rekonstruksi Gaza segera dilakukan.
Pada 12 Oktober mendatang, Mesir akan menjadi tuan rumah konferensi donor untuk mengumpulkan dana pembangunan Gaza. Sementara negara-negara donor akan bertemu di sela-sela Sidang Umum PBB pada pekan depan di New York. (mk/knrp)
Sumber: vivanews.co.id