DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI

anak-anak-Gaza-2-1-655x372
Jakarta – Konflik berdarah di Jalur Gaza tak pernah bisa sepenuhnya padam. Agresi militer Israel ke wilayah tersebut seolah terjadi secara berkala. Hal tersebut dikhawatirkan bisa menimbulkan imbas psikologis jangka panjang bagi penduduk Gaza.
Hal tersebut disampaikan Makarim Wibisono, Pelapor Khusus PBB mengenai situasi HAM didaerah Palestina, dalam salah satu poin kesimpulan hasil kunjungannya. Menurut Makarim, tidak ada satu orang anak pun di Gaza yang dapat terbebas dari pengaruh negatif konflik berkepanjangan itu.
“Anak-anak saat ini mengalami masalah sulit tidur, ngompol di malam hari, mimpi buruk, histeris, kehilangan nafsu makan, dan sekolah-sekolah mengamati perilaku yang lebih agresif dari murid-muridnya,” ujar Makarim dalam pernyatan yang dikirim KBRI Kairo, Selasa (30/9/2014).
Duta Besar RI untuk PBB periode 2004 – 2007 ini dalam kunjungannya telah bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi Palestina termasuk tiga menteri, wakil-wakil masyarakat madani dan para korban selama kunjungannya di Amman, Jordania dan di Kairo, Mesir karena Israel tidak memberikan akses untuk mengunjungi Ramallah dan Yerusalem. Makarim telah melakukan pembicaraan dengan Badan-badan PBB, organisasi-organisasi internasional dan nasional lainnya serta pejabat pemerintah dan aktivis HAM di Gaza menggunakan video dan teleconference.
Makarim menyatakan dia juga khawatir atas biaya luar biasa yang dipikul penduduk sipil Palestina khususnya anak-anak di Gaza sebagai akibat dari operasi militer Israel yang berlangsung 50 hari sejak 7 Juli sampai dengan 26 Agustus 2014. Alumnus UGM ini mengamati bahwa kecenderungan yang memprihatinkan itu telah berkembang sebagai akibat dari tiga operasi militer Israel selama 6 tahun terakhir yang telah mengabaikan hukum humaniter internasional dan hukum HAM internasional di mana penduduk sipil terutama anak-anak yang menjadi korban terberat.
“Alasan Israel sebagai tindakan bela diri melawan penduduk yang didudukinya yang hidup dalam blokade yang tidak sah menurut hukum internasional tidak dapat diteruskan lagi,” kata Makarim.
Diperkirakan lebih dari 7.000 bom dan alat peledak lainnya yang belum meledak tersebar di seluruh pelosok Gaza yang menimbulkan ancaman bagi penduduk Gaza terutama anak-anak. Dalam serangan bom dan peledak lainnya yang berlangsung terus menerus selama 50 hari 228 sekolah di Gaza mengalami kerusakan, termasuk 28 sekolah hancur dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Sekarang masih 87 sekolah beroperasi penuh dengan dua shift pagi dan sore.
“Saya mendapat informasi bahwa telah dilakukan bimbingan kejiwaan bagi anak-anak yang masuk sekolah kembali sejak 14 September 2014. Meskipun demikian anak-anak khususnya yang kehilangan kedua orang tuanya membutuhkan bimbingan dan dukungan kejiwaan dari para ahli dalam waktu lebih lama,” ujar Makarim.
Diperkirakan masih sekitar 60.000 penduduk sipil yang masih tinggal di 19 penampungan sementara di sekitar Gaza. Mereka umumnya mengalami masalah kesehatan termasuk penyakit akibat stres, penyakit kulit sebagai akibat terbatasnya fasilitas sanitasi. Sementara itu, para dokter dan pejabat kesehatan di Gaza juga melaporkan akan keterbatasan obat-obatan, dan peralatan kesehatan
“Israel harus segera mencabut blokade darat, laut dan udara di Gaza dan segera mengizinkan masuknya bahan-bahan material untuk rekonstruksi dan pemulihan Gaza,” ujar Makarim.
Pria yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Guatemala, Nikaragua, Jamaica dan Bahama ini juga mendesak Israel untuk mentaati prinsip dasar dalam menggunakan kekerasan dan persenjataan dengan mengingat dalam periode dari 12 Juni sampai 31 Agustus 2014, 27 warga Palestina meninggal dan 5 di antaranya anak-anak dan yang termuda masih berusia 11 tahun.
“Penggunaan peluru sungguhan untuk menghadapi warga Palestina meskipun mereka ikut melempar batu tidak dapat dibenarkan ,” kata Wibisono.
“Saya juga telah menerima laporan yang mengkhawatirkan di mana bantuan internasional diintervensi termasuk suatu taman bermain anak-anak yang ditempatkan di dekat sekolah dihancurkan dan sekolah tersebut juga diancam untuk dihancurkan karena tidak memiliki IMB,” sambungnya.
Makarim mencat mencatat bahwa aspirasi dan suara hati dari seluruh penduduk Palestina di seluruh pelosok wilayah Palestina yang diduduki menyatu dalam tiga tuntutan yaitu: kebutuhan untuk memperoleh akuntabilitas, berakhirnya blokade dan selesainya pendudukan Israel. (mk/knrp)
Sumber: detiknews

DOWNLOAD Aplikasi Android KNRP Sekarang di Play Store, KLIK DI SINI